jenis usaha rumahan

Memulai usaha tidak selalu harus Anda awali dari hal-hal yang bersifat besar. Bahkan kadang potensi yang menarik dan besar bisa saja Anda temukan dari hal-hal yang kecil dan kadang dengan mudah Anda temukan sehari-hari.

Contohnya jenis usaha rumahan yang di rintis Purnama Hartini, seorang ibu muda usia 35 tahun asal kota Bantul Yogyakarta. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ibu Pur demikian biasa beliau dipanggil sudah tentu sangat familier dengan urusan dapur dan masak memasak. Dan salah satu hidangan andalan beliau adalah sambal.

Konon sambal buatannya adalah favorit keluarga besar dan ketika keluarga besarnya sedang kumpul, Ibu Pur sudah biasa mendapat jatah untuk membuatkan sambal dalam porsi besar. Dari sanalah salah satu keponakannya mengusulkan untuk membuat usaha sambal kemasan.

Mendapat ide menarik semacam ini membuat Ibu Pur ingin menjajal membuat sendiri sambal kemasan pertamanya untuk uji coba. Setelah beberapa kali uji coba, akhirnya berhasil juga Ibu Pur membuat sambal terasi kemasan yang enak dan tahan lama, bahkan tanpa pengawet dan bahan aditif lainnya.

Cukup sambal beliau kemas dalam sebuah wadah jar kaca kecil.  Bila masih dalam segel, sambal buatannya bisa bertahan sampai 3 bulan tetapi bila sudah dibuka, harus segera dihabiskan dalam 3 hari atau setidaknya 5 hari bila disimpan dalam mesin pendingin.

Menurutnya kunci sambal yang awet berawal dari proses pengolahan yang bersih dan pemasakan yang tanak. Selain itu, sambal juga akan lebih awet karena pengemasan yang higienis dan rapat. Bahkan untuk masalah kemasan, beliau sampai mencoba berbagai pilihan kemasan mulai dari kemasan jar plastik dan cup bersegel.

Setelah menemukan teknik masak dan teknik pengemasan yang tepat, Ibu Pur mulai menjajal membuka jenis usaha rumahan dengan  sambal kemasannya. Pada awal usaha, beliau hanya membuat sebanyak 50 kemasan jar dalam ukuran 150 ml, dengan dibantu satu orang tenaga kerja di dapur kecilnya.

Beliau memulai usahanya hanya dengan bermodal 800 ribu. Baru memulai usaha, Ibu Pur sudah dirundung masalah, upayanya untuk menjual produk sambal kemasannya di sebuah toko oleh-oleh dekat rumahnya tidak berhasil.

Sempat dibuat bingung bagaimana teknik penjualan yang efektif, Ibu Pur mendapat pencerahan dari seorang tetangganya yang bersedia menjualkan sambal kemasan buatan Ibu Pur ini ke kantor.

Dari sana perlahan tapi pasti pesanan mulai muncul. Bahkan terus berkembang sejak Ibu Pur mengerahkan waktunya untuk promosi ke berbagai arisan ibu-ibu PKK di kawasan perumahan dan mendapat beberapa agen yang bersedia menjualkan produknya ke kantor-kantor.

Sambal Ibu Pur akhirnya mendapat sambutan yang baik setelah  3 bulan produksi. Dalam sehari setidaknya Ibu Pur harus membuat 30 kemasan baru dengan harga jual 25 ribu perkemasan. Melihat potensi dari usahanya yang terus berkembang, Ibu Pur menjajal untuk membuat ragam sambal rasa lain.

Setelah berbagai uji coba lagi, akhirnya Ibu Pur bisa membuat 4 rasa lain, antara lain sambal cabe ijo, sambal ebi, sambal bawang teri dan terakhir sambal bumbu rujak. Bahkan untuk sambal rujak, Ibu Pur membuat beberapa level kepedasan dari level tiga dengan rasa pedas ringan sampai super pedas di level 1.

Ide menambah rasa ini lagi-lagi membuat usaha sambal buatan Ibu Pur yang kemudian di beri brand Purnama sambal ini menjadi lebih digemari konsumen.

Kini dalam satu bulan Ibu Pur mengaku harus memproduksi tak kurang dari 100 kemasan sambal dengan 5 rasa ini. Dengan harga jual sekitar 25 ribuan perkemasan, Ibu Pur bisa mengeruk omset tak kurang dari 60an juta tiap bulan. Penjualannya yang lumayan aktif ini berkat konsep penjualan via agen yang kini mencapai 15 orang untuk seluruh Yogya.

Beliau merasa cukup gaptek untuk menjual via online, tetapi rencananya dalam tahun 2015 ini, beliau ingin menjajah pasar online. Salah seorang keponakannya siap membantu mengembangkan usaha ini via online.  Beliau sadar dengan penjualan online mungkin produksi harus lebih digenjot lagi.

Karenanya kini Beliau tengah membangun dapur khusus untuk produksi sambalnya supaya bisa menambah kapasitas produksi dan menampung lebih banyak karyawan. Saat ini dapur yang dia buat di sisi belakang rumahnya hanya mampu menampung 4 orang karyawan saja.

Dengan kapasitas pabrik sekarang, beliau kadang perlu kerja lembur demi bisa memenuhi target produksi ketika musim cabe murah, supaya bisa memotong target produksi ketika harga cabe mahal.

Karena beliau berupaya tetap mempertahankan biaya produksi tak lebih dari 80% dari harga jualnya. Sebisa mungkin Ibu Pur belum ingin bisa menambah harga jual karena kini persaingan usaha sambal relatif kencang. Bila beliau harus menambah harga beliau khawatir akan menurunkan daya saing dari produk sambalnya.

Inilah jenis usaha rumahan yang sukses dikembangkan oleh Ibu Pur dari sesuatu yang ala rumahan dan sebenarnya sangat sederhana. Tetapi dengan pengolahan yang tepat dan pengelolaan yang baik, bisnis rumahan ini bisa menjadi sumber penghasilan yang tidak kecil bagi keluarga.

(sumber gambar artikel jenis usaha rumahan : www.healthygreenkitchen.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 − eleven =