usaha bawang gorengUsaha Bawang Goreng – Pernahkah Anda mendengar sebuah nasehat tua yang mengatakan bahwa sebuah ide besar  justru berawal dari yang paling kecil? Kadang tak perlu berpikir terlalu rumit untuk menemukan ide yang luar biasa, karena justru hal-hal kecil dan sederhana Anda bisa membuka sebuah peluang luar biasa. Sebagaimana ide usaha bawang goreng kemasan yang akan ulas kali ini.

Ide usaha ini sangat sederhana, malah saking demikian sederhananya banyak orang yang bisa dengan mudah meniru usaha ini. Tapi rupanya masih saja usaha macam ini memiliki peluang demikian besar sampai bisa menghantarkan salah satu pelaku usahanya mencapai tangga kesuksesan dengan omset ratusan juta perbulan.

Baca Juga : Terjun di Usaha Gorengan dengan Modal Inovasi Makanan

Itu pula sebabnya kami tertarik mengangkat bisnis ini dalam ulasan kami kali ini. Karena dengan demikian sederhananya ide usaha ini, sebenarnya bisa Anda tiru dengan mudah, baik Anda adalah mahasiswa, ibu rumah tangga atau bahkan karyawan.

Tetapi, meski terlihat mudah dan sangat sederhana, untuk bisa menjalankan usaha beromset ratusan juta, Anda perlu menjadi lebih dari sekedar bisa tetapi juga professional. Dan ketika Anda mencoba menjalankan usaha bawang goreng kemasan dengan cara yang professional, maka ada banyak aspek usaha yang perlu Anda pikirkan lebih lanjut sehingga usaha ini tak lagi sesederhana yang Anda kira sebelumnya.

Untuk bisa menggambarkan pada Anda bagaimana menjalankan sebuah usaha bawang goreng kemasan dengan cara yang professional dan mampu berpotensi besar hingga omset ratusan juta, maka kami akan mengangkat kisah sukses seorang mahasiswi asal kota Solo yang harus membanting setir menjalankan usaha bawang goreng kemasan demi menyambung hidup. Tak dinyana justru dari sanalah sukses menghampirinya.

Kisah berawal ketika Fitria Dewi, seorang gadis muda berusia 19 tahun yang berkuliah di salah satu Universitas negeri di Solo harus mendapatkan kabar buruk perihal sang ayah yang sakit keras dan kesulitan membiayai kuliahnya.

Kala itu, semester sudah berjalan dan Fitri sudah melunas pembayaran SPP untuk semester itu. Karena itu setidaknya dia ingin menyelesaikan kuliahnya di semester ini baru nanti berpikir bagaimana kelanjutan masa depannya. Yang perlu dia pikirkan adalah bagaimana bertahan hidup di rantau tanpa kiriman dari orang tua.

Terbersitlah memulai usaha bawang goreng. Ide ini datang begitu saja di benak Fitri dan langsung direalisasikannya. Dengan modal 50 ribu, Fitri langsung membeli bawang merah di pasar dan diolahnya langsung menjadi bawang goreng. Semua peralatan masaknya masih menggunakan alat masak yang dia miliki di rumah kontrakannya bersama dua orang temannya yang lain. Bawang goreng yang sudah diolahnya ini kemudian dikemasnya dalam wadah plastik.

Bawang goreng kemasan ini ditawarkan Fitri ke para penjaja makanan seperti penjual bakso dan soto tak jauh dari tempatnya tinggal. Tak disangka bawang goreng buatan fitri malah disukai banyak orang, mereka yang membelinya kembali memesan ulang bawang goreng padanya. Malah saking banyaknya pesanan, Fitri sempat kebingungan mengatasi pesanannya.

Dan inilah awal mulanya Fitri mulai berpikir untuk menjalankan usahanya dengan serius. Fitri mendapat informasi dari internet mengenai semua peralatan untuk menjalankan usaha bawang goreng professional. Peralatan itu adalah alat penggoreng bawang merah, alat spinning pengering minyak goreng, alat iris bawang goreng dan kemasan kantung alumunium foil untuk mengemas bawang goreng. Beruntung salah seorang rekan satu kontrakan Fitri meminjamkannya uang sebesar 2 juta untuk membeli semua peralatan itu.

Peralatan ini menghasilkan bawang goreng yang lebih garing, lebih kering bebas minyak dan renyah. Selain itu pengemasan alumunium foil juga membantu bawang goreng lebih tahan lama dan tidak mudah melempem, bahkan selama beberapa bulan.

Dari sinilah kontrakan yang ditinggalinya bersama dua rekannya itu disulap Fitri menjadi pabrik kecil pembuatan bawang goreng kemasan. Kedua rekannya serumah membantunya menjalankan produksi dan pengemasan. Sedang masalah pemasaran sepenuhnya masih dikelola oleh Fitri sendiri.

Untuk pemasaran, Fitri tidak hanya menjalankan penawaran konvensional, tetapi juga menjajaki bisnisnya di pasar online. Dengan bantuan beberapa akun pada portal penjualan online yang bertebaran di dunia maya, perlahan tapi pasti permintaan bawang goreng Fitri terus meningkat.

Sejak awal, Fitri menjanjikan bawang goreng buatannya bebas bumbu MSG dan bebas pengawet. Dan jargon ini pula yang membuatnya banyak mendapat sambutan di pasar online. Fitri mengemas bawang goreng dalam ukuran pengemasan ½ kg dan 1 kg dengan harga 70 ribu perkilonya dibawah merek Swan.

Perkembangan usaha bawang goreng rumahan miliknya ini mulai terlihat jelas. Kini Ftri harus mengirim beberapa puluh kilo bawang goreng kemasan ke berbagai daerah seperti Yogyakarta, Semarang, Madiun, Kediri dan Purworejo.

Berawal dari modal awal yang tidak lebih dari 2 juta, kini omset hingga ratusan juta diterima Fitri setiap bulannya. Fitri sampai harus merekrut 7 tenaga kerja dan menyewa satu rumah produksi khusus mengingat tuntutan produksinya tidak lagi bisa dijalankan sebagai usaha rumahan. Karena kini untuk tiap harinya Fitri harus memproduksi setidaknya 80 kg bawang merah.

Baca Juga : Usaha yang Menguntungkan dengan Bumbu Masak Powder

Inilah keberhasilan tak terduga dari sebuah usaha bawang goreng kemasan yang dirintis secara sederhana oleh seorang mahasiswa.

(sumber gambar artikel usaha bawang goreng : aishcooks.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 4 =