usaha di desaDalam ulasan sebelumnya kami sudah mengulas mengenai bagaimana menjalankan usaha ternak bebek dan mencapai hasil optimal dalam tempo singkat hanya 40 hari.

Sebenarnya bila Anda menengok ke pedesaan, maka dengan mudah Anda bisa menemukan beberapa pelaku usaha di desa yang memilih menekuni usaha ternak bebek.

Bebek termasuk jenis unggas yang sangat produktif, baik sebagai penghasil telur maupun penghasil bebek. Bagi beberapa daerah hidangan bebek juga menjadi kegemaran masyarakat, karena harus diakui daging bebek memiliki rasa legit yang kuat.

Baca Juga : Bisnis Sampingan Modal Kecil Dengan Budidaya Ikan Bawal

Jadi dari sisi pasar, sejak dulu daging bebek sudah memiliki tempat tersendiri meski memang tidak menyamai posisi pasar daging ayam. Namun dalam 3 tahun belakangan ini, permintaan daging bebek meningkat pesat. Ini di sebabkan oleh perkembangan kuliner bebek di pasaran.

Beberapa pelaku usaha kuliner bebek bermunculan di berbagai kota dan dari kelompok produksi ini Anda bisa mengeruk permintaan yang relatif besar. Hal ini diakui oleh seorang pelaku ternak bebek yang menjalankan usaha di desa kawasan Gombong, Kebumen.

Hadi Wijayaningrat yang dikenal dengan usahanya bertajuk Bebek Gombong ini mengaku dalam satu minggu harus melayani permintaan sampai lebih dari 3000 ekor. Kadang Hadi terpaksa menolak pesanan karena tak lagi mampu dicakup oleh kapasitas usahanya.

Hadi yang dulunya sempat menjalankan usaha restoran di kawasan Kebumen sebelum akhirnya memilih berkonsentrasi pada usaha penggemukan bebek ini melihat potensi penggemukan bebek ini lebih baik bahkan bisa menjadi lebih baik lagi. Dan menurut pandangannya justru tak serumit menjalankan usaha restoran.

Untuk bisa memperluas pasar, Hadi menjual produk daging bebek dalam berbagai bentuk. Mulai dari bebek hidup, bebek karkas atau potong segar dan daging beku. Cara ini membuat Hadi bahkan siap melayani permintaan dari luar Kebumen seperti Purwokerto, Cilacap, Yogyakarta, Solo sampai Semarang. Diakui beberapa pasar di luar Kebumen memang cenderung mencari produk bebek dari Kebumen karena dinilai lebih berkualitas.

Baca Juga : Gelimang Hasil dari Usaha Ayam Petelur Dari Skala Kecil

Hadi mengakui untuk mengejar kualitas, perlu adanya pemilihan DOD yang tepat. Dan Hadi hanya fokus pada DOD type hybrid yang lebih murah namun berkualitas sama baiknya dengan jenis peking. Bebek peking dikenal dengan tubuh tegap dan besar sehingga cenderung cocok sebagai jenis pedaging. Hadi juga menyediakan jenis bebek peking untuk menyasar pasar kuliner kelas atas seperti permintaan dari restoran dan hotel.

Namun untuk pemeliharaan, bebek peking biasanya baru bisa dipanen di usia lebih dari 8 bulan, bahkan kadang beberapa konsumen hanya mencari jenis bebek peking usia di atas 1,5 tahun. Sedang untuk bebek hybrid, pasar justru lebih suka daging bebek muda usia 40 hari dengan pertimbangan daging lebih mudah lunak dan tulang juga cenderung lebih empuk, juga lebih lebih murah.

Harga daging bebek di usia ini hanya berkisar 37 ribu saja perekor bandingkan dengan bebek hybrid usia 7 bulan yang berkisar pada harga 35 ribu perkilo dengan berat berkisar 1, 8 kilo perekor. Atau malah bandingkan dengan jenis peking yang bisa mencapai angka 100 ribu perekornya. Meski murah nyatanya kebanyakan produsen memilih jenis bebek muda untuk dilempar ke pasar karena lebih laku, lebih cepat menghasilkan uang dan tidak memakan banyak biaya produksi.

Hadi sendiri mengaku dalam satu bulan bisa menjual tak kurang dari 10 ribu ekor bebek. Untuk memenuhi kebutuhannya, Hadi juga mengambil pasokan bebek dari pelaku usaha di desa sekitarnya. Dari angka ini setidaknya keuntungan 20 % siap dikantongi Hadi.

Kiat Hadi dalam mengembangkan usaha di desa yang dia jalankan ini adalah dengan fokus untuk tetap menjaga kualitas. Untuk itu Hadi tak segan memastikan kualitas pasokan bebek yang dia siapkan, baik yang datang dari peternakan sendiri maupun dari pemasok. Hadi terbilang tegas bila menemukan pemasok yang melempar produk afkir padanya.

Selain itu, kualitas pemotongan dan pengemasan produk juga menjadi perhatian Hadi. Hadi sengaja membangun rumah potong bebek sendiri karena serat dan type daging bebek yang tidak sepenuhnya sama dengan ayam sehingga perlu tenaga yang lebih memahami bebek dalam menangani pemotongan.

Baca Juga : Peluang Usaha di Rumah dengan Hasil Besar : Usaha Ternak Jangkrik

Hadi juga mengemas daging karkas dan beku dalam wadah plastik transparan yang membuat daging terlihat lebih bersih dan lebih sehat. Pastikan pula proses pembersihan daging sudah maksimal karena konsumen biasanya tidak mau lagi ribet melakukan pengecekan terhadap daging bebek yang mereka olah. Sekali saja Anda membiarkan daging yang belum bersih sempurna atau terpotong tidak sempurna masuk pasar, maka kepercayaan pasar akan menurun terhadap Anda.

Itulah gambaran keberhasilan pelaku usaha di desa yang bergerak dalam bidang ternak bebek pedaging. Maraknya perkembangan kuliner bebek membuat pasar bebek pedaging meningkat pesat, bahkan sampai membuat pelaku lama tak mampu lagi memenuhi permintaan. Celah inilah yang memberi Anda satu ruang memulai usaha baru yang potensial.

(sumber gambar artikel usaha di desa : www.iniaku.net)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 3 =